Pengamat sepak bola ternama tanah air, Justinus Lhaksana atau yang akrab disapa Coach Justin, melayangkan kritik tajam kepada manajer Arsenal, Mikel Arteta. Kritik pedas ini menyusul kegagalan tragis The Gunners merengkuh trofi Liga Champions Eropa musim 2025/2026 setelah ditumbangkan oleh Paris Saint-Germain (PSG) lewat babak adu penalti di laga final.
Melalui unggahan video di kanal YouTube pribadinya (31/5), Coach Justin tidak ragu menyuarakan tagar #ArtetaOut. Ia menilai kekalahan ini murni karena kesalahan taktikal Arteta yang dinilainya pengecut dan "kepinteran" setelah sempat unggul lebih dulu.
Taktik "Parkir Bus" yang Berujung Petaka
Arsenal sebenarnya memulai laga dengan sangat meyakinkan setelah berhasil mencetak gol cepat pada menit ke-6 memanfaatkan kesalahan Marquinhos yang terkena pressing ketat. Namun, setelah unggul 1-0, Arteta justru menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain bertahan total.
Coach Justin menilai keputusan "parkir bus" tersebut sebagai blunder terbesar yang membuat Arsenal gagal membunuh pertandingan (kill the game).
"Kok bisa lu unggul 1-0 membiarkan sampai extra time? Kenapa lu enggak usaha untuk cari gol kedua? Ini masalah mindset, masalah mental. Itulah kenapa gue selalu bilang Arteta mindset-nya bukan mindset pelatih besar," ujar Coach Justin dengan nada tinggi.
Mantan pelatih timnas futsal Indonesia tersebut juga membeberkan statistik miris dari Opta. Arsenal mencatatkan rekor penguasaan bola (ball possession) terendah dalam sejarah final Liga Champions, yakni hanya 24,8%. Sepanjang laga, gawang Arsenal terus dibombardir dengan total 21 tembakan dari PSG, berbanding terbalik dengan Arsenal yang hanya melepaskan 7 tembakan.
Kritik Tajam Ketergantungan Set Piece dan Taktik yang Mentok
Lebih lanjut, Coach Justin mengkritik ketergantungan akut Arsenal pada skema bola mati (set piece). Musim ini, sekitar 38% gol Arsenal lahir dari situasi corner kick atau free kick. Menurutnya, taktik bola mati seharusnya menjadi rencana cadangan (Plan D), bukan senjata utama (Plan A).
"Masa iya lu keluarin 1,2 miliar (euro) selama 7 tahun untuk ambil pelatih yang cuma ngandelin corner kick? Insane! Setelah 6,5 tahun, imajinasi taktikal Arteta itu sudah stuck (mentok)," kritiknya.
Ia juga mempertanyakan keputusan Arteta yang menurunkan pemain muda minim jam terbang seperti Yerson Mosquera dan Lewis Skelly sebagai starter di laga sebesar final UCL, ketimbang memasang pemain yang lebih berpengalaman seperti Martin Zubimendi atau Mikel Merino. Alhasil, Mosquera yang sempat tampil apik justru membuat kesalahan yang berujung penalti bagi PSG.
David Raya Jadi Pahlawan yang Sia-sia
Dalam laga tersebut, penjaga gawang Arsenal, David Raya, sebenarnya tampil luar biasa dan dinobatkan sebagai Man of the Match dengan rating 8.0 versi FotMob karena berkali-kali menyelamatkan gawang Arsenal dari gempuran pemain PSG.
Namun bagi Coach Justin, kegemilangan Raya justru menjadi bukti nyata betapa hancurnya strategi bertahan yang diterapkan Arteta. Pada akhirnya, perjuangan Raya kandas di babak adu penalti. Coach Justin menegaskan ia sama sekali tidak menyalahkan Gabriel Magalhães atau Martin Ødegaard yang gagal mengeksekusi penalti, karena laga seharusnya sudah bisa dimenangkan Arsenal di waktu normal jika mereka berani bermain menyerang.
Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi fans Arsenal, sekaligus memperpanjang puasa gelar Eropa mereka di tengah gelombang tuntutan suporter yang mulai meragukan masa depan Mikel Arteta di London Utara.

0 Komentar