Presiden Prabowo Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Serukan Transformasi Ekonomi Berkeadilan

Source: BPIP RI

JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memimpin langsung Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang berlangsung khidmat di Gedung Pancasila, Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026) pagi. Peringatan yang menandai 81 tahun lahirnya ideologi bangsa ini mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia."

Upacara kenegaraan lintas generasi ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting bangsa, di antaranya Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Wapres ke-13 K.H. Ma'ruf Amin. Hadir pula pimpinan lembaga negara seperti Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang bertindak sebagai pembaca teks Pancasila dan Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin yang membacakan Pembukaan UUD 1945.

Menegaskan Implementasi Ekonomi Pancasila

Dalam amanatnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh sekadar menjadi dokumen sejarah atau slogan seremonial tahunan. Beliau menyerukan mandat sejarah untuk melakukan transformasi total pada sistem ekonomi nasional agar benar-benar berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945.

"Pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan angka-angka statistik. Pembangunan ekonomi harus menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya.

Presiden menjabarkan lima pilar utama Ekonomi Pancasila yang menjadi arah kebijakan pemerintah saat ini:

  1. Ekonomi Religius dan Berperikemanusiaan: Mengelola kekayaan alam sebagai amanah untuk kemakmuran rakyat serta keberlangsungan generasi masa depan.
  2. Keberpihakan pada Rakyat Kecil: Menjamin kecukupan gizi bagi anak-anak, kepastian pupuk bagi petani, serta pemberdayaan nelayan sebagai produsen protein bangsa.
  3. Kedaulatan Sumber Daya: Melanjutkan investasi besar-besaran di bidang industrialisasi berbasis hilirisasi, serta menerapkan sistem ekspor satu pintu guna memastikan devisa tinggal di Ibu Pertiwi.
  4. Ekonomi Kerakyatan (Egaliter): Membakar semangat kebangkitan koperasi sebagai instrumen pengentas kemiskinan dan mendorong desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
  5. Keadilan Sosial: Menyelaraskan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan pemerataan yang adil di seluruh penjuru tanah air.

Ajakan Berdikari di Tengah Krisis Global

Di hadapan para tamu undangan, Kepala Negara juga mengingatkan bahwa Indonesia wajib memperkuat ketahanan pangan dan energi di tengah ketidakpastian geopolitik serta perang dagang global. Mengutip pesan mendalam dari Proklamator Bung Karno, Presiden Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk berani berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).

Beliau juga mengakui bahwa jalan menuju transformasi bangsa ini tidak akan mudah dan penuh rintangan, termasuk potensi hambatan dari kelompok-kelompok yang mendukung tindakan ekonomi ilegal seperti korupsi dan penyelundupan. Namun, beliau menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu mengambil keputusan sulit demi melindungi kepentingan rakyat dan masa depan generasi penerus.

Rangkaian upacara ditutup dengan pembacaan doa oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, dilanjutkan dengan persembahan lagu-lagu nasional dan daerah Nusantara oleh Paduan Suara BPIP, yang mempertegas kekayaan budaya sebagai perekat persatuan bangsa.

Posting Komentar

0 Komentar