Cetak Rekor di Emisi Perdana, Danantara Sukses Raup US$ 1,5 Miliar dari Global Bond

Source: Sekretariat Presiden

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Nusantara (Danantara) sukses menorehkan prestasi gemilang dalam debut penerbitan obligasi global (global bond) perdananya. Di tengah dinamika pasar modal dan tekanan nilai tukar Rupiah, Danantara berhasil menghimpun dana sebesar US$ 1,5 miliar dengan tingkat permintaan (oversubscribed) yang melampaui ekspektasi.

​Pencapaian ini disampaikan langsung oleh Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, bersama Menteri Sekretaris Negara dalam keterangan pers usai menghadap Presiden di Ruang Sidang Kabinet, Senin (15/6/2026).

​"Alhamdulillah, respons dari pasar global sangat baik. Kami menemui 122 investor di berbagai negara, dan book building yang masuk mencapai kurang lebih US$ 4,6 miliar dari target awal US$ 1 miliar. Melihat antusiasme yang begitu tinggi, kami akhirnya meningkatkan (upsize) nilai emisi menjadi US$ 1,5 miliar," ujar Rosan.

​Rincian Penawaran dan Dominasi Investor Barat

​Kepercayaan dunia internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia terbukti dari profil investor yang menyerap global bond ini. Secara historis, obligasi asal Indonesia umumnya didominasi oleh investor dari kawasan Asia. Namun, pada emisi Danantara kali ini, investor dari Amerika Serikat dan Eropa justru mendominasi.

​Berikut adalah rincian obligasi global perdana Danantara yang dijadwalkan masuk ke rekening negara pada 18 Juni 2026:

  • Tenor 5 Tahun (US$ 750 Juta): Diserap dengan tingkat bunga (yield) yang sangat kompetitif di angka 5,35%. Mayoritas investor berasal dari Eropa dan Timur Tengah (41%), disusul Amerika Serikat (38%), dan Asia (21%).
  • Tenor 10 Tahun (US$ 750 Juta): Memiliki yield sebesar 5,95%. Secara mengejutkan, lebih dari separuh peminatnya berasal dari Amerika Serikat (52%), diikuti Eropa dan Timur Tengah (31%), serta Asia (17%).

​"Ini adalah bukti nyata. Mereka tidak akan masuk dan meminta yield yang relatif rendah jika mereka tidak percaya pada stabilitas pertumbuhan jangka panjang Indonesia," tambah Rosan.

​Kesuksesan ini tidak lepas dari sovereign rating (status layak investasi) yang setara dengan Pemerintah Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional bergengsi seperti Moody's dan S&P, serta predikat tertinggi (Triple A) dari Pefindo.

​Arahan Presiden: Fokus Deregulasi dan Hilirisasi

​Merespons capaian positif ini, Pemerintah Indonesia tidak ingin berpuas diri. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sekretaris Negara menegaskan bahwa Presiden menginstruksikan jajaran kabinet untuk terus menjaga momentum pemulihan ekonomi dan mengoptimalkan iklim investasi domestik.

​Ada dua fokus utama yang menjadi arahan Presiden ke depannya:

  1. Deregulasi Perizinan: Mempermudah dan mempercepat proses perizinan untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih ramah dan kompetitif bagi investor.
  2. Percepatan Industrialisasi dan Hilirisasi: Mendorong nilai tambah kekayaan alam di dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada barang impor. Langkah ini dinilai esensial untuk memperkuat performa ekspor yang pada gilirannya akan menopang stabilitas nilai tukar Rupiah.

​"Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat dan pelaku pasar untuk bergandengan tangan. Iklim usaha yang kuat membutuhkan stabilitas, dan capaian Danantara hari ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk memulihkan persepsi pasar terhadap ekonomi nasional," pungkas Mensesneg.

Posting Komentar

0 Komentar